Upacara Adat Mangalehen Goar

Pendidikan

Upacara Adat Mangalehen Goar

Upacara Adat Mangalehen Goar

Dalam masyarakat Mandailing upacara adat mangalehen goar wajib dilaksanakan karena menyangkut dalam pertuturon yang ada didalam keluarga kerajaan, yaitu yang mempunyai gelar  adat seperti Sutan, Baginda yang ada pada masyarakat Mandailing. Setiap penggantin laki-laki akan diberi gelar sesuai dengan urutan gelar yang mengikuti gelar dari kakeknya, memberi gelar ini dilakukan oleh Raja Panusunan Bulung (orang yang tertua dikampung) atas usul nomora dan natoras dengan disaksikan olehHarajaon (raja-raja adat), dan Dalian Na Tolu sebagaimana disebutkan bahwa gelar yang diberikan adalah gelar yang dimiliki kakeknya dan tidak boleh mengambil gelar bapaknya, yang menurut adat harus bersifat barbar tu ginjang (memengang kuat ke atas) dan arit tu toru (memperat kebawah), Upacara adat Mangalehen Goar memiliki beberapa tahapan antara lain:persiapan, manortor, dan naik nacar.

  1. Isi Cerita Tortor Mangalehen Goar

Tortor mangalehen goar adalah tarian yang berasal dari MandailingMangalehen artinya memberi dan Goar artinya Gelar sehingga tortor mangalehen Goar berarti memberi gelar. Sejarah asal usul tortor mangalehen goar merupakan marga Rambe pergi ke hutan untuk membuat ladang yang menebak balok (kayu) dengan alat penebang pohon yang tradisional yaitu baliung (kampak) dan tali tambang didalam hutan itu terdapat lobang besar yaitu sebuah kampong yang bernama Lubuk Simalihot Simalioton. Setelah beberapa banyak balok yang di tumbang  Baliung danbalok itu jatuh ke bawah lobang besar yaitu Lubuk Simalihot Simalihotondan mengenai Raja Panusunan jatuh sakit dan membuat pengumuman siapa yang sanggup mengobati Raja Panusunan akan di nikahi dengan Boru ni Raja Panusunan yaitu anak perempuan raja, marga Rambe pun pergi mancari kayu do lobang besar, sesampainya dibawah dia berkata sanngup untuk mengobati Raja Panusunan dengan memakai jubah dan kerudung berwarna hitam, dan Raja Panusunan Lubuk Simalihot Simalioton sehat, maka dibuatlah rencana pernikahan.

Alat yang digunakan untuk menebang balok tadi adalah Baliung dantali tumbang yang di pinjam dari temannya dan dia tidak mengetahui bahwa Baliung tersebut adalah milik Raja Panusunan Lubuk Simalihot Simalioton bermaksud ingin memulangkan alat yang dipakai untuk menebang balok itu. Beliau naik ke atas dengan menggunakan tali tambang, maka temannya memberika syarat agar bisa menikahi boru ni Raja Panusunan Lubuk Simalihot Simalioton bahwa setiap marga yang meminjam Baliung tersebut tidak boleh bagian  dari raja seperti Baginda,Sutan dan Mangaraja kalau tidak mangkoyok horbo (memotong kerbau).


Sumber: https://student.blog.dinus.ac.id/handay/seva-mobil-bekas/

Comments are closed.