Tujuan Sosiolinguistik Menurut Ahli

Umum

Tujuan Sosiolinguistik Menurut Ahli

Pengertian Sosiolinguistik 

Tujuan Sosiolinguistik Menurut Ahli – Sosiolinguistik merupakan kajian tentang bahasa yang dikaitkan dengan kondisi kemasyarakatan. Sosiolinguistik mengkaji bahasa dengan memperhitungkan hubungan antara bahasa dengan masyarakat, khususnya masyarkat penutur bahasa (Kunjana , 2001: 12).

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik adalah

Sosiolinguistik adalah ilmu yang bersifat multidisipliner atau gabungan dari dua disiplin ilmu, yaitu sosiologi dan linguistik. Sebagi ilmu yang bersifat multidisilpliner, sosiolinguistik berusaha menjelaskan kemampuan manusia di dalam menggunakan aturan-aturan berbahasa secara tepat dalam situasi-situasi yang bervariasi (Ohoiwutan, 1997: 9). Masih dalam pengertian yang sama Spolsky (1998: 3) menyatakan ”Sociolinguistik is the field that studies the relation between language and society, between the uses of language and the social structure, in wich the users of language live” (Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat, antara pemakaian bahasa dan struktur sosial di dalam pemakaian bahasa sehari-hari).
Hudson (1996: 1) menyatakan ”Sociolinguistic is studi of language in relation to society” (Sosiolinguistik mengkaji bahasa di dalam hubungannya dengan faktor-faktor kemasyarakatan/sosial). Nababan (1993:2) menjelaskan sosiolinguistik ialah studi bahasa yang berhubungan dengan penutur bahasa sebagai anggota masyarakat, atau mempelajari aspek-aspek kemasyarakatan bahasa yang berkaitan dengan faktor-faktor kemasyarakatan/sosial. Selanjutnya ia menambahkan bahwa sosiolinguistik mengkaji bahasa dalam konteks sosial kebudayaan, menghubungkan faktor-faktor budaya, serta mengkaji fungsi sosial dan pemakaian bahasa dalam masyarakat.
Menurut Mansoer Pateda (1992:3) memberikan definisi sosiolinguistik sebagai cabang linguistik yang mempelajari bahasa dan pemakaian bahasa dalam konteks budaya. Orang berbahasa harus memperhatikan konteks budaya tempat ia bertutur. Diharapkan dengan memahami prinsip-prinsip sosiolinguistik setiap penutur akan menyadari betapa pentingnya peranan ketepatan pemilihan bahasa sesuai dengan konteks sosial budaya.
Nababan (1989: 187) menjelaskan sosiolinguistik merupakan pengkajian bahasa dalam masyarakat. Hal ini dapat dijelaskan bahwa suatu sistem komunikasi masyarakat yang terdiri atas lambang-lambang bunyi. Secara lebih lanjut Harimukti Kridalaksana (1984: 201) menjelaskan bahwa sosiolinguistik adalah cabang linguistk yang saling berpengaruh antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Menurut Suwito (1996:8), sosiolinguistik dapat mengurangi kesalahan dalam masalah ketidaktepatan pemakaian bahasa dalam konteks sosial.
Abdul Chaer dan Leonie Agustina (1995: 3) menyatakan bahwa sosiolinguistik adalah bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan bahasa itu di dalam masyarakat. Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa diperlukan manusia dalam kegiatan kemasyarakatan, yaitu mulai dari upacara pemberian nama pada bayi yang baru lahir sampai upacara pemakaman jenazah. Oleh karena itu, sosiolinguistik tidak akan terlepas dari persoalan hubungan bahasa dengan kegiatan atau aspek-aspek kemasyarakatan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sosiolinguistik adalah ilmu yang bersifat multidisipliner yang mengkaji masalah pemakaian bahasa di masyarakat yang berkaitan dengan struktur sosial, situasional, dan budaya. Bahasa dalam studi sosiolinguistik tidak hanya dipandang sebagai struktur saja, tetapi juga dipandang sebagai sistem sosial, sistem komunikasi, dan bagian dari kebudayaan masyarakat tertentu.
Penelitian bahasa dengan tinjuan sosiolinguistik senantiasa memperhitungkan bagaimana pemakainya di dalam masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial tertentu. Faktor-faktor sosial itu antara lain: status sosial, tingkat pendidikan, umur, tingkat ekonomi, agama, jenis kelamin, dan lain-lain. Selain itu bentuk bahasanya juga dipengaruhi oleh faktor situasional, misalnya: siapa yang berbicara, bagaimana bentuk bahasanya, kepada siapa, di mana, kapan, dan mengenai masalah apa.

Keadaan Soiolinguistik di Indonesia 

Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki beribu-ribu suku bangsa dan setiap suku bangsa pasti memiliki bahasa tersendiri. Dengan kata lain, bahasa yang terdapat di Indonesia jumlahnya ribuan. Bahasa yang digunakan di masyarakat Indonesia dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : bahasa ibu (bahasa daerah), bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Adanya tiga bahasa tersebut, menyebabkan masyarakat Indonesia menjadi bilingual, bahkan multilingual.
Abdul Chaer, (1994:65) menyatakan bahwa apabila dua bahasa atau lebih digunakan secara bergantian oleh penutur bahasa tersebut bisa dikatakan saling kontak. Kontak bahasa terjadi dalam diri penutur secara individual dalam masyarakat. Kontak bahasa antarindividu juga terjadi di masyarakat Indonesia. Jadi, kontak bahasa ini terjadi dalam konteks sosial.
Kontak bahasa itu terjadi dalam situasi konteks sosial, yaitu situasi seorang belajar bahasa kedua di dalam masyarakatnya. Dalam situasi seperti itu dapat dibedakan antara: situasi belajar bahasa, proses pemerolehan bahasa, dan orang berlajar bahasa. Dalam situasi belajar bahasa terjadi kontak bahasa sehingga proses pemerolehan bahasa kedua disebut pendwibahasaan (bilingualisasi) dan orang yang belajar kedua dinamakan dwibahasawan.
Kontak bahasa meliputi segala peristiwa persentuhan antara beberapa bahasa yang berakibat adanya kemungkinan pergantian pemakaian bahasa oleh penutur. peristiwa semacam ini akan terlihat dalam wujud apa yang disebut bilingualisme. Adanya masyarakat yang bilingual dan multilingual dalam kegiatan interaksi sosial akan menyebabkan terjadinya variasi bahasa.
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa keadaan sosiolinguistik di Indonesia, yaitu adanya tiga golongan penggunaan bahasa yang digunakan masyarakat Indonesia, seperti bahasa ibu, bahasa Indonesia dan bahasa asing. Dari ketiga golongan tersebut terjadi kontak bahasa.
Baca Artikel Terkait Lainnya

DAFTAR PUSTAKA

  • Abdul Chaer. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Abdul Chaer dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  • Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Pengantar Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.
  • Depdikbud. 1995. Teori dan Metode Sosiolinguistik II. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  • Dwi, Purnanto. 2001a. “Register Pialang Kendaraan Bermotor” dalam tesis. Program Pasca Sarjana UNS, Surakarta.
  • . 2001b. “Karakteristik Pemakaian Bahasa Pialang Kendaraan Bermotor di Surakarta” dalam Jurnal Linguistik Bahasa. Volume I, Nomor 2. Program Studi Linguistik (S2) Pasca Sarjana UNS, Surakarta.
  • Dwi Indah Royani. 2004. Skripsi: Register Bahasa Lisan yang Digunakan Dokter di Rumah Sakit Islam Klaten : FKIP UNS, Surakarta.
  • Halliday, MAK dan Hasan, Ruqaiya. 1994. Bahasa Konteks dan Teks : Aspek bahasa dalam pandangan semantik sosial (Terjemahan. Asrudin Barori TOU). Yogyakarta : UGM Press.
  • Harimukti Kridalaksana.1984. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia.
  • Hudson, R.A. 1996. Sociolinguistics. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Http: www.io.ppi.-Jepang . Org/article.Php?id=44. diakses 11 November 2005.
  • Kunjana, R. Rahardi. 2001. Sosiolinguistik Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
  • Mansoer Pateda. 1990. Sosiolinguistik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
  • _____________. 1992. Sosiolingustik. Bandung : Angkasa.
  • Markamah. 2001. “Penelitian Sosiolinguistik: Aspek Nonkebahasaan dan Bidang yang Dikaji“ dalam Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra. Volume XIII, Nomor 25, PBS FKIP UMS, Surakarta.
  • Maryono, Dwiraharjo. 1996. Fungsi dan bentuk Wacana dalam Masyarakat Tutur Jawa : Studi Kasus di Kotamadya Surakarta (desertasi), UGM, Yogyakarta.
  • Miles, Mattew B dan Huberman, A. Michael (Terjemahan dari Tjetjep Rohendi Rohidi). 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
  • Moleong, Lexy. 2000. Metodologi Penelitian Kualitatif Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Muh. Asrori. 2001. “Variasi Bahasa: Sebuah Kajian atas Pemakaian Sosiolek Bahasa Jawa“ dalam Jurnal Linguistik Bahasa. Volume 1 Nomor 2, Program Studi Linguistik (S2) Pasca Sarjana UNS, Surakarta.
  • Nababan. 1989. “Sosiolinguistik dan Pengajaran Bahasa“ dalam PELLBA 2. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.
  • _______.1993. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Ohoiwutan, Paul. 1997. Sosiolinguistik. Jakarta: Kesaint Blant.
  • Sibarani, Robert. 1992. Hakikat Bahasa. Bandung: PT. Aditya Bhakti.
  • Soepomo Poedjosoedharmo. 1983. Pengantar Sosiolinguisiik. Yogyakarta.: Universitas Gajah Mada.
  • Spolsky, Bernand. 1998. Sociolinguistics. Oxford: Oxford University Press.
  • Sutopo, HB. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif, Dasar-dasar Teori dan terapannya dalam penelitian. Surakarta : UNS Press.
  • Suwito. 1983. Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema.
  • Surakarta UNS Press.
  • ______. 1996. Sosiolinguistik. Surakarta: UNS Press.

Comments are closed.