Tokoh Pendidikan Bahasa Indonesia

Pendidikan

Tokoh Pendidikan Bahasa Indonesia

Tokoh Pendidikan Bahasa Indonesia

Tokoh Pendidikan Bahasa Indonesia

 Ki Hadjar Dewantara

          Ki Hadjar De­wantara pulang ke Tanah Air pada tahun 1918 setelah menempuh studinya di Belanda. Empat tahun ke­mudian, tokoh yang tak bisa menyelesaikan pendidikan kedokteran di STOVIA ka­rena sakit ini baru bisa mewujudkan semua gaga­sannya tentang dunia pen­didikan dengan men­dirikan National Onderwijs Instituut Taman Siswa pada 3 Juli 1932 di Yogyakarta.

          Perguruan bercorak na­sional ini sangat menekankan rasa kebangsaan agar siswa mencintai bangsa dan tanah air, sehingga tergerak untuk berjuang meraih kemerdekaan. Dari tahun ke tahun, Taman Siswa terus menggeliat. Jum­lah muridnya terus bertam­bah. Artinya, semakin banyak pula rakyat Indonesia yang pikirannya terbuka. Melihat kiprah Ki Hadjar Dewan­tara yang terus berkembang, pemerintah kolo­nial Belanda kembali resah. Jalan pintas diambil: Taman Siswa mesti diberangus. Caranya, dengan mener­bitkan ordonansi sekolah liar pada 1 Oktober 1932. Namun, berkat kegigihan Ki Hadjar Dewan­tara, bukannya Taman Siswa yang bubar, melainkan justru ordo­nansi itulah yang akhirnya dicabut.

          Ketika Jepang masuk menggantikan pemerintahan Hindia Belanda 1942, Ki Hadjar Dewan­tara tak henti berjuang lewat politik dan pendidikan. Bersama beberapa tokoh nasional pada saat itu, Ki Hadjar duduk sebagai salah seorang pimpinan Putera. Dedikasi panjangnya ter­hadap dunia pendidikan me­ngan­tarkan Ki Hadjar menjadi Menteri Pendidikan, Penga­jaran, dan Kebudayaan per­tama setelah Indonesia mer­deka.

          Penyandang gelar doctor honoriscausa dari Universitas Gadjah Mada pada 1957 ini mengenalkan konsep orde en vreden (tertib dan damai), dengan bertumpu pada prinsip pertumbuhan menurut kodrat. Konsep inilah yang kemudian terkenal dengan metode Among, dengan trilogi peran kepemimpinan pendidik, yaitu tut wuri handayani (guru hanya membimbing dari belakang dan mengingatkan jika tindakan siswa membahayakan), ing madya mangun karsa(mem­bangkitkan semangat dan memberikan motivasi), dan ing ngarsa sung tulada (selalu menjadi contoh dalam perilaku dan ucapan).

Sumber : https://downloadapk.co.id/

Comments are closed.