PERJUANGAN DAN AKTIVITAS TAN MALAKA

Pendidikan

PERJUANGAN DAN AKTIVITAS TAN MALAKA

PERJUANGAN DAN AKTIVITAS TAN MALAKA

PERJUANGAN DAN AKTIVITAS TAN MALAKA

Ia Menulis Risalah Pertamanya yaitu sebuah uraian tentangkomunisme: Soviet atau Parlemen. Ia terlibat di balik layar pada pemogokan buruh perkebunan Belanda. Dari sini kedudukannya semakin sulit sehingga ia mengundurkan diri dari Guru dan berangkat ke Jawa bulan februari 1921. Ia tinggal di Semarang, pusat kegiatan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang belum lama berdiri. Tan Malaka pindah ke Jawa dengan kemahirannya ia membuka sekolah untuk para kaum Proletar, yang mana ia akan menerangkan tentang dasar-dasar komunisme. Tak lama membuka sekolah ini, akhirnya sekolah ini berdiri di mana-mana. Dan sebagai buku panduan, Tan Malaka menulis buku SI Semarang dan Onderwijs (Pendidikan).

Kepergian pimpinan PKI yang bernama Semaun ke Uni Soviet dan kekurangan kader pimpinan yang kronis menyebabkan Tan Malaka menjadi pengganti yang paling dianggap cocok. Ia tetap mempertahankan hubungan antara Partai Islam yang besar, Sarekat Islam dengan PKI yang lebih kecil. Perlu diketahui tujuan partai-partai komunis dunia ialah menggantikan sistem kapitalisme dengan komunisme. Waktu terpukul hancurnya kapitalisme, dan terpukul jatuhnya borjuis belumlah mewujudkan komunisme. Antara kapitalisme dan komunisme ada satu masa peralihan. Dalam masa peralihan ini, proletariat melakukan diktator atas borjuasi. Ini berarti bahwa proletariat dunia memaksakan kehendaknya atas borjuasi dunia yang berulangkali mencoba mendapatkan kembali kekuasaan politik dan ekonomi yang hilang, agar dapat mempergunakan kembali alat-alat pemeras dan penindasnya. Dalam masa penindasan itu, negeri-negeri kapitalis alat-alat penindasan borjuasi dunia diganti dengan negeri-negeri Soviet. Soviet adalah perwujudan diktator proletariat. Tujuan Soviet ialah menghapuskan kapitalisme dan mempersiapkan tumbuhnya komunisme.

Seiring berjalannya waktu, SI berusaha ingin mengeluarkan kaum komunis dari partai mereka, kendati Tan Malaka melawannya. Setelah itu ia dan partainya terlibat dalam pemogokan buruh pegadaian. Bagi pemerintah adanya pergerakan ini sangat membahayakan ketertiban dan keamanan, sehingga dalang ini semua harus di pindahkan dari dalam negeri. Sebagai alternative Tan Malaka izin meninggalkan Hindia, tanpa bayangan sedikit pun untuk kembali ke Hindia. Dan pada bulan Maret 1922 ia berangkat ke Belanda.

Di Belanda ia sangat disambut hangat oleh kawan-kawannya sebagai martir dari kolonialisme Belanda. Ia langsung di taruh pada urutan ketiga pada daftar kaum komunis untuk pemilu anggota Tweede Kamer(Parlemen) bulan Juli 1922 sebagai calon Indonesia yang pertama. Ia melakukan safari ke berbagai wilayah akan tetapi ia hanya mendapatkan 2 kursi dan faktor umur 30 tahun tidak memungkinkan ia untuk terpilih.

Dari belanda ia pergi ke Moskow. Tan Malaka tampil pada kongres Komintern bulan November 1922. Ia menyampaikan pidato yang cukup sia-sia tentang kerjasama antara komunisme dan pan-Islamisme, pendapatnya ini tidak diakui sebagai potensi revolusioner. Komintern memberikan mandat baru kepada Tan Malaka pada tahun 1923 sebagai wakil Komintern untuk Asia Tenggara, dengan kewenangan yang cukup luas tentang urusan partai, kelompok-kelompok, dan tokoh-tokoh di kawasan itu.

Sebagai basis ia memilih kanton dan di sana ia juga giat mengorganisasi konferensi Buruh Transport Pasifik. Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti mengalami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”. Tan Malaka selalu mengawasi anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskow, diikuti oleh kaum komunis dunia. Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.

Dari jarak jauh ia turut ikut campur dalam urusan perkembangan PKI yang dengan pandangan radikalnya tak terelakkan lagi akan menuju ke arah pemberontakan bersenjata melawan penguasa. Tan Malaka mengemukakan pendapat yang berbeda dan menyampaikan risalah dengan menulis dalam bahasa Belanda, Naar de ‘Republiek-Indonesia’ (1924). Dengan inilah Tan Malaka di beri kehormatan sebagai bapak Republik Indonesia. Alimin dan Moesso telah bermain-main dengan Revolusi. Risalah-risalah Tan Malaka, tentang Semangat Moeda dan masa actie tidak diedarkan dan perundingan di Singapura disabotase. Kedua tokoh PKI pun berangkat ke Moskow untuk mencari bantuan Soviet, yang bertentangan dengan pendapat Tan Malaka karena menurutnya PKI belum siap, dan masih mentahnya situasi dan kondisi Indonesia dan Internasional waktu ini pemberontakan hanya menjadi bunuh diri bagi PKI dan pejuang neasional kemerdekaan. Pada bulan November 1926 dan pada Januari 1927 pemberontakan pun pecah dan berhasil di tindas dengan cepat. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjuangan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun. Disini PKI dilumpuhkan dan dilarang, dan tidak lagi menjadi faktor politik yang kuat.

Dan akibat dari persoalan ini tan Malaka mengambil sikap menjauh dan memisahkan diri dari komintern dan PKI. Karena menurutnya sikap pimpinan dari keduanya tidak jelas. Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di Ibukota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka akhirnya mengambil langkah kongkrit dengan memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia“. Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1924.

Pada buku menuju Republik Indonesia banya berbicara masalah PKI, seperti : tujuan PKI, Program Nasional dari PKI, Perjalanan PKI, dan lain sebagainya. Dan disini juga menjelaskan tentang situasi di Dunia pada perang tahun 1914-1918. Serta dijelaskan situasi yang ada di Indonesia.

Dan lalu dikembangkan pada tulisannya pada tahun yang sama yaitu Massa Aksi. Tulisannya di sini tidak kaitannya dengan PKI yang telah di tinggalkan Tan Malaka. Dalam tulisannya tujuan politik hanya dapat di capai melalui massa aksi. Massa Aksi yaitu dari massa untuk massa, yang mana dengan menggunakan semua hak politik yang ada. Bukan dengan jalan mendorong segerombolan kelompok bersejata yang dengan kekerasan ingin merebut kekuasaan negara, atau dengan jalan kudeta ingin mengambil kekuatan bersenjata mengambil alih kekuasaan, atau melakukan pemberontakan yang akan menimbulkan kerusuhan dan keributan menentang kekuasaan, atau dalam situasi dan kondisi dulu melaluiVolksraad (Dewan Rakyat).

Intinya Tan Malaka menjelaskan dan menganalisa tentang situasi dan kondisi dengan latar belakang nusantara yang menjadi kerangka pokok dan landasan dasar harus memakai dasar perhitungan dan pertimbangan kekuatan di lapangan. Seperti, harus di perhitungkan dahulu sesuai dengan tempat, waktu dan keadaan dan kekuatanyang ada.

Baca Juga :

Comments are closed.