Pengembangan Karakter Siswa Sekolah Dasar

Pendidikan

Pengembangan Karakter Siswa Sekolah Dasar

Pengembangan Karakter Siswa Sekolah Dasar

Pengembangan Karakter Siswa Sekolah Dasar

Strategi pengembangan nilai karakter sesuai dengan strategi Samani dan Haryanto (2011: 144)

Yakni pemanduan, pujian dan hadiah, definisikan dan latihkan, penegakan disiplin, serta penghargaan setiap bulan. Pihak sekolah dasar dapat menggunakan strategi ini jika mereka ingin mengembangkan nilai-nilai karakter. Peran guru sangat penting dalam menjalankan strategi ini.

 

Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan karakter adalah

Terbentuknya budaya sekolah yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut (Asmani, 2012: 55-56). Pengembangan karakter dapat dilakukan dimana saja. Pengembangan karakter dapat dilakukan dengan membuat slogan yang mampu menumbuhkan kebiasaan dalam segala tingkah laku masyarakat.

Pernyataan Peterson dan Deal (Zuchdi, 2011: 148)

Bahwa kepala sekolah, tim pengawal budaya sekolah dan karakter, guru, karyawan, siswa, dan orang tua/wali siswa mempunyai peran tersendiri dalam pengembangan nilai-nilai karakter. Pemantauan secara kontinyu merupakan wujud dari pelaksanaan pengembangan pembangunan yang berkarakter. Penilaian orang tua memiliki peranan yang besar dalam membangun pengembangan karakter anak.

Menurut Nurul (2007: 19) bahwa nilai-nilai adalah pengembangan pribadi siswa tentang pola keyakinan yang terdapat dalam sistem keyakinan suatu masyarakat tentang hal baik yang harus dilakukan dan hal buruk yang harus di hindari. Sedangkan seseorang dikatakan berkarakter atau berwatak apabila telah berhasil menyerap nilai keyakinan yang di kehendaki masyarakat serta di gunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya.

Lickona (1993) berpendapat tentang pengembangan karakter anak yaitu dengan komponen sebagai berikut:

  1. Knowing the good (mengetahui yang baik)
  2. Desiring the good (menginginkan yang baik)
  3. Exampling the good (mencontohkan yang baik)
  4. Loving good (menyukai yang baik)
  5. Acting the good (melakukan yang baik)

Pengembangan karakter sesuai konsep dari Thomas Lickona

juga dapat dilakukan dengan memasukkan konsep karakter pada setiap pembelajaran di sekolah dasar. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan yaitu:

  1. Guru menanamkan nilai kebaikan pada anak (knowing the good) dan menanamkan konsep diri kepada anak setiap akan memasuki pelajaran.
  2. Guru menggunakan cara yang membuat anak memiliki alasan atau keinginan untuk berbuat baik (desiring the good).
  3. Guru memberikan beberapa contoh baik kepada anak mengenai karakter yang sedang dibangun (exampling the good). Misalnya melalui cerita dengan tokoh-tokoh yang mudah dipahami siswa.
  4. Guru mengembangkan sikap mencintai perbuatan baik (loving the good). Pemberian penghargaan kepada anak yang membiasakan melakukan kebaikan anak yang melanggar diberi hukuman yang mendidik.
  5. Guru melaksanakan perbuatan baik (acting the good). Pengaplikasian karakter dalam proses pembelajaran selama di sekolah.

.

Menurut Saptono (2011: 199) terdapat 19 cara yang digunakan dalam pengembangan karakter siswa sekolah. Beberapa cara tersebut dapat digunakan untuk mengembangkan pendidikan karakter di sekolah dasar, yaitu :

  1. Memajang gambar-gambar para tokoh inspiratif di aula sekolah dan ruang-ruang kelas.
  2. Membuat program penghargaan untuk mengapresiasi berbagai hal yang membanggakan, selain prestasi akademis, olahraga atau kesenian.
  3. Membuat pedoman perilaku di kelas dan sekolah yang disetujui oleh para siswa dan guru.
  4. Mengundang para orang tua siswa untuk mengamati dan berkontribusi terhadap kemajuan kelas atau sekolah.
  5. Meminta siswa mengungkapkan tokoh idola yang bersifat personal dan tanyakan mengapa tokoh itu menjadi idola siswa yang bersangkutan.
  6. Memimpin para siswa dengan keteladanan.
  7. Jangan biarkan berbagai bentuk ketidaksopanan terjadi di kelas.
  8. Melibatkan orangtua siswa dalam mengatasi perilaku tidak baik siswa dengan cara mengirimkan surat, memanggil orangtua atau melalui kunjungan ke rumah yang bersangkutan.
  9. Memastikan bahwa siswa memiliki tanggung jawab moral untuk bekerja keras di sekolah.
  10. Memiliki kata-kata di dinding yang mendorong karakter yang baik, misalnya “Jangan tunggu untuk menjadi orang yang hebat, mulailah sekarang juga!”.
  11. Berusaha konsisten dalam memperlakukan siswa, jangan biarkan perasaan pribadi menghalangi seorang guru untuk bertindak adil.
  12. Mengakui kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya.
  13. Mengajarkan siswa mengenai kompetisi serta bantu siswa untuk mengerti kapan hal tersebut berguna dan kapan hal tersebut tak berguna.
  14. Mengajarkan kesantunan secara jelas. Ajarkan kepada siswa begaimana mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian dan tidak memotong pembicaraan orang lain.
  15. Melakukan kerja bakti bersama baik di kelas atau sekolah.
  16. Menunjukkan penghargaan terhadap siapapun yang berbeda keyakinan dan berbeda budaya. Katakan kepada siswa mengenai kewajiban moral untuk bertindak adil terhadap orang lain.
  17. Tekankan kepada siswa tentang pentingnya kepedulian terhadap orang lain dan lingkungan.
  18. Beri perhatian program-program tertentu di sekolah yang sarat muatan karakter, misalnya ‘bulan penghargaan tokoh karakter’.
  19. Menekankan pentingnya sikap ksatria (tidak curang) dalam berolahraga, bermain, dan dalam berbagai bentuk interaksi dengan orang lain.
  20. Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/ 

Menurut Sipos (2010) terdapat 11 prinsip yang harus dicapai untuk mengembangkan pendidikan karakter yang efektif. Prinsip-prinsip ini apabila diterapkan di sekolah dasar akan menumbuhkan, membangun, dan mengembangkan karakter siswa sekolah dasar menjadi lebih baik.

Comments are closed.