Membangun Model (ideal?) Jam’iyah NU

Umum

Membangun Model (ideal?) Jam’iyah NU

Membangun Model (ideal ) Jam’iyah NU

Membangun Model (ideal ) Jam’iyah NU

Sudah sejak lama dan juga sering dikeluhkan, kalau NU itu cenderung merupakan jama’ah (semacam paguyuban : kumpulan orang-orang dengan karakteristik tertentu yang relatif homogen) daripada jam’iyah (organisasi : ada kewajiban dan hak, ada struktur, mekanisme kerja, pendelegasian, ada kultur, ada visi dan misi dll). Bahkan saking kuatnya nuansa paguyuban ini, di tanah air sering kali ada kepengurusan ranting, ancab maupun cabang yang sampai dalam kondisi yang tercermin dalam pernyataan berikut : ”ada yang mau ngurusi saja alhamdulillah, harus disukuri itu, nggak usah dituntut macem-macem lah”.

Padahal, setahu saya, NU itu penuh cita-cita luhur, besar dan mulia dari pendiri-pendirinya seperti memajukan dakwah ala wali songo, memajukan tegaknya agama Islam ala ahlussunnah wal jama’ah, memajukan perekonomian dan pendidikan umat dll. Dan sepertinya, pola kerja ala paguyuban yang selama ini banyak dipraktekkan di lingkungan NU terbukti kurang efektif dalam mendorong warganya menuju cita-cita tersebut. Secara makro, kita bisa lihat ketertinggalan usaha pendidikan dan ekonomi yang dikelola NU dibandingkan dengan yang dikelola oleh ormas lain seperti muhammadiyah atau persis. Bahkan tradisi ritual keagamaan seperti jam’iyah diba’an, manakiban, jami’yah tahlil satu persatu juga mulai tumbang digerus kehidupan moderen yang serba materialistis bahkan di wilayah basis NU (Jawa Timur).

Secara mikro, beberapa indikator yang tampak saat ini — jikalau ada kemajuan — adalah kemajuan yang sifatnya sporadis, lokal dan tak terkoordinir dengan induk organisasinya. Misalkan ada madrasah yang maju di suatu desa, maka kantor NU ranting ataupun anak cabang atau bahkan cabang di daerah tersebut tidak tahu menahu. Bahkan yang spesifik mengurusi bidang pendidikan seperti Ma’arif, juga kadang tidak dapat mengakses madrasah yang bersangkutan karena tidak mau menginduk ke Ma’arif. Bahkan madrasah yang di bawah naungan ma’arif pun seringkali tidak dapat diakses keuangan ataupun manajemennya oleh ma’arif. Hal ini sering amat sangat menghambat upaya memajukan pendidikan NU secara efektif, misalkan melalui pelatihan manajemen (sering tidak mendapat sambutan), standar baku mutu, penggunaan nama ma’arif dll.

Biasanya di belakang madrasah yang maju tersebut ada seorang tokoh yang ulet, ikhlas dan berjuang mati-matian memajukan lembaganya. Meskipun dalam salah satu perspektif hal ini sangat positif karena menandakan hidupnya masyarakat yang berinisiatif dan berdaya (tamaddun). Namun di sisi lain sering kali menjadi faktor penghambat usaha kolektif pelaksanaan program-program jam’iyah yang sifatnya sinergetik dan berskala lebih besar.

Sekarang kembali ke pokok persoalan. Apakah bentuk organisasi NU yang lebih ideal utntuk digunakan ? apakah bentuk yang seperti selama ini (semacam paguyuban) ataukah bentuk yang lebih bersifat organisatoris ?. Menurut pendapat saya pribadi, jika menginginkan tercapainya tujuan-tujuan organisasi secara efektif, maka seharusnya kita mengerahkan lebih banyak energi dan upaya untuk mendorong transformasi jam’iyyah NU ke bentuk yang lebih organisatoris.

Berbicara mengenai hal ini, saya jadi teringat ketika berdiskusi dengan al-mukarrom KH. Muchid Muzadi di sebuah acara bedah buku beliau yang diselenggarakan PMII ITS. Saat itu saya menanyakan mengapa NU itu kok tidak tertib organisasi ? dengan harapan mungkin saya dapat memperoleh penjelasan akar sejarahnya yang bisa kita analisa dan gunakan untuk membangun NU ke depan. Jawaban Beliau sunguh di luar dugaan saya. Beliau bercerita bahwa pada mulanya NU itu sangat-sangat dan amat sangat tertib organisasi. Bahkan beliau menceritakan tentang proses pendaftaran beliau sendiri yang harus mengikuti prosedur rekrutmen anggota organisasi yang luar biasa ketat. Pertama harus mengajukan permohonan untuk menjadi anggota organisasi di tingkat ranting, kemudian oleh ranting diteruskan di tingkat anak cabang untuk di bahas, kemudian ada semacam wawancara tentang tujuan bergabung di organisasi dan lain sebagainya. Hasil wawancara dan pertimbangan di tingkat cabang kemudian diusulkan ke PBNU di Jakarta untuk mendapatkan persetujuan. Total proses pengajuan menjadi anggota sampai sekitar 3 Bulan ……. subhanallah.

Menurut beliau, NU mulai agak ’rusak’ keorganisatorisannya sejak pemilu 1955. Di mana karena keperluan memenangkan parpol yang didukung NU serta banyaknya lowongan jabatan politis yang tersedia, sedangkan mencari orang yang berkompeten di dalam tubuh NU sangat sulit, maka dibukalah jalur masuk keanggotaan NU yang hampir-hampir tanpa saringan, tanpa prosedur administrasi keorganisasian lagi. Sejak saat itu, dan mungkin karena banyak pengurusnya sibuk dan keenakan di politik praktis NU tidak pernah dikembalikan lagi ke dalam napasnya sebagai organisasi.

Nah, pada titik inilah saya mencoba untuk menggugah kembali dan mengajak bapak-bapak/ibu sekalian untuk merenungkan kembali eksistensi organisasi NU, tujuan-tujuannya, praktek-praktek yang berkembang serta strategi untuk pencapaian tujuan yang selama ini ada. Coba kita ingat contoh organisasi di jaman ORLA, misalnya PKI yang rapi organisasinya, yang bahkan di pelosok desa ada kader yang membina yang terkoordinir secara rapi dengan induk organisasinya, anggota organisasi dari-waktu ke waktu di beri semangat dan diedukasi tentang tujuan organisasi, anggotanya secara rutin bersedia membayar iuran untuk biaya kegiatan organisasi. Contoh saat ini adalah PKS, yang anggotanya juga (setelah diedukasi dan didoktrin ideologi organisasi) bersedia, mengeluarkan uang secara rutin maupun insidentil untuk keperluan aktivitas gerakan, mengikuti pengajian rutin (forum liqo’). Bersedia memasarkan ideologi mereka (mengajak teman lain untuk ikut pengajian) dll. Perlu di catat di sini, bahwa yang melakukan hal tersebut bukan hanya pengurus saja lho, tapi juga kader-kader, anggota dan simpatisan sampai tingkatan terendah.

Hasilnya, satu persatu anak-anak orang NU banyak yang terpikat dengan organisasi yang rapi semacam ini. Tidak jauh-jauh, kakak perempuan saya juga menjadi salah satu motornya. Mungkin juga diantara adik, saudara atau bahkan anak bapak/ibu sekalian ada juga yang sudah menjadi anggota, simpatisan atau bahkan motor penggerak PKS. Di sini saya tidak berpretensi untuk mengatakan PKS itu tidak baik. Saya hanya ingin menonjolkan kontras antara dua organisasi dimana yang satu semakin membesar dan yang satu semakin ditinggalkan anak muda.

Soal tujuan dan ideologi organisasi mungkin bisa di baca di AD ART NU. Akan tetapi permasalahannya di sini adalah apakah kita sampai pada tataran tergerak untuk mencapai tujuan dan memperjuangkan ideologi tersebut secara sungguh-sungguh ? Pernahkah Bapak2/ibu2 bertanya, sebagai anggota NU apa hak saya, dan apa kewajiban saya ?, kemudian karena begitu memahami hak dan kewajiban tersebut, kita lalu dengan penuh semangat melakukannya.

Menurut saya, mungkin sekaranglah saatnya bagi semua kader NU baik yang berada di tanah air, di luar negeri, di dalam struktur NU ataupun di luar struktur untuk merenung lagi dasar-dasar fundamental organisasi NU. Apakah kita semua sudah punya sebuah jawaban kepada seluruh anggota jama’ah mengapa mereka harus memilih berkhitmat melalui NU, mengapa bukan organisasi lain ?. Ini yang disebut sebagai ideologisasi gerakan, ideologisasi gerakan itu bersifat kolektif, bukan bersifat individual. Kenyataannya, sebuah organisasi tanpa ideologi yang kuat biasanya adalah organisasi yang sering kekurangan bahan bakar. Bahkan sering kita temukan sebuah organisasi akan mati kalau ditinggal pemimpinnya, di sinilah letak esensi kebutuhan kaderisasi berasal. Jadi kaderisasi bukan saja menyiapkan pengganti dengan skill manajerial, komunikasi dan organisasiyang memadai, tapi juga kader yang memahami dan menjiwai ideologi dari organisasi tersebut.

Sebuah usulan dari saya, mencermati banyaknya bermunculan komunitas-komuniitas intelektual muda NU, bangkitnya PCI-PCI NU di luar negeri dengan karakteristik keanggotaan yang unik, muda, kelas menengah, intelek, dapatkah kita kembangkan (develop) sebuah model jam’iyyah (betul-betul organisasi dengan pengertian yang sudah saya jelaskan panjang lebar di atas) dalam komunitas NU yang relatif kecil, beranggota orang terpelajar dan berkemampuan ekonomi yang cukup. Agar dapat menjadi contoh jam’iyyah NU yang efektif dan resourceful ?. Mungkin saja bagian kecil dari komunitas besar warga NU yang anda diami atau kelola dapat menjadi contoh untuk yang lain-lain.

Mungkin menyampaikan pemikiran ini di depan khalayak cerdik cendekia NU seperti Panjenengan semuanya ibarat menggarami air laut. Tapi karena besarnya kecintaan saya dan keinginan untuk melihat NU tetap bertumbuh dan mampu menjawab tantangan jaman, tulisan ini akhirnya tertuang juga di gubug maya kami ini.

Sumber : https://belinda-carlisle.com/frontline-shooter-apk/

Comments are closed.