MEMAHAMI KAKI KAPALAN YANG TIDAK LEBIH MENARIK DARIPADA COUPLE-AN

Kesehatan

MEMAHAMI KAKI KAPALAN YANG TIDAK LEBIH MENARIK DARIPADA COUPLE-AN

Kaki kapalan memang mengganggu. Selain kasar, ia terhitung bahagia memberikan sensasi nyangkut-nyangkut di permukaan kain.

Kaki ibu saya kapalan. Berbagai cara dilakukan, terasa berasal dari mengolesi krim, manfaatkan plester, dan lain sebagainya. Bapak saya cuma geleng-geleng kepala, sesudah itu dengan bangganya perlihatkan kakinya yang terhitung kapalan sambil terkekeh-kekeh.

Saya sendiri yakin, kaki manusia yang kapalan bukan cuma kaki orang tua saya saja. Mungkin, orang tuamu, atau lebih-lebih kamu sendiri, terhitung mengalami kaki kapalan yang bikin kulit jadi tidak tipis dan keras. Setelah bertahun-tahun merasakan ketebalan ini, saya pun kian penasaran: kenapa sih kaki-kaki ini perlu kapalan?

Usut miliki usut, kapalan miliki nama lain callus, yakni penebalan kulit akibat gesekan yang berlebihan. Callus keluar sebagai reaksi tubuh di dalam proses melindungi anggota kulit yang sensitif. Pada kaki, ia biasa keluar terhadap tumit, tetapi sering pula ditemui terhadap tangan dan jari.

Nah, cobalah sekarang menyimak bagian-bagian tubuhmu, terutama kaki. Apakah kamu menemukan kulit yang terasa kasar dan menebal, yang jikalau kamu gesek-gesekkin di atas kasur dapat nyangkut-nyangkut di serat-serat seprai? Apakah ada nyeri-nyeri yang terasa di bawah kulitmu? Apakah anggota kulitmu yang keras dan kasar tadi terasa kelihatan layaknya padang pasir: retak, kering, lebih-lebih terbelah?

Jika ya, terimalah kenyataan: kaki kapalan kini jadi milikmu!

Meski umum dimiliki orang-orang—untung aja ketutupan sepatu!—kapalan mampu jadi lumayan mengancam bagi penderita diabetes dan peredaran darah yang buruk. Pasalnya, cedera sekecil apa pun mampu mengundang luka infeksi—hal yang selayaknya dihindari oleh penderita diabetes.

Lantas, apa yang membuat kaki ibu, bapak, dan saya jadi kapalan?

Walau agak menyebalkan, perlu diakui bahwa keliru satu penyebab kaki jadi kapalan adalah terdapatnya tekanan berlebihan berasal dari berat badan ke keliru satu tempat kaki—misalnya tumit. Nah, gara-gara tumit diberi tekanan konsisten menerus dan perlu mampu menyokong badan, kulit di tempat tumit pun menebal demi mampu melindungi jaringan di bawahnya.

Kulit yang kering konon justru mempermudah terjadinya kapalan. Pada umur lanjut, kapalan terhitung lebih ringan berjalan gara-gara jaringan kulit yang dimiliki kulit udah lama berkurang. Tapi, yah, secara umum, ternyata penyebab-penyebab kapalan mampu didaftar sebagai berikut:

1. sepatu yang dipakai sangat sempit atau miliki hak dan kewajiban sangat tinggi,

2. tidak memakai kaus kaki waktu memakai sepatu, dan

3. pemanfaatan alat musik atau peralatan tangan sangat sering.

Kaki kapalan memang mengganggu. Selain kasar, ia terhitung bahagia memberikan sensasi nyangkut-nyangkut di permukaan kain. Oleh karenanya, saya memahami betul bahwa biasanya berasal dari kami pasti inginkan menghalau kenangan jaman lalu kapalan, sebagaimana ibu saya yang saya sebut di awal tulisan ini.

Selain saran-saran simple layaknya berhenti manfaatkan sepatu hak tinggi atau terasa mengenakan sarung tangan, ada lebih dari satu cara penanganan kapalan yang dianjurkan, misalnya:

1. pemanfaatan salep atau krim yang punya kandungan asam salisilat,

2. pemotongan kulit—hal ini dilaksanakan jikalau kapalan udah diakui berlebihan dan memiliki tujuan untuk menurunkan tekanan terhadap jaringan kulit,

3. pemanfaatan produk perawatan kaki secara teratur, diikuti dengan proses konsultasi dengan dokter kulit,

4. pemanfaatan sol sepatu yang dibikin secara custom, ikuti wujud kaki penderita untuk menjauhkan gesekan, atau bahkan

5. operasi!

Duh, ternyata perkara kaki yang kapalan memang bukan hal yang sepele-sepele amat, ya? Meski rasanya geli-geli lucu tiap-tiap kali kami merasakan kekasaran tekstur kulit, ia memang justru jadi wujud tekanan yang berlebih terhadap anggota bawah tubuh.

Baca Juga :

Comments are closed.