Kuesioner PKASL salahi prosedur

Pendidikan

Kuesioner PKASL salahi prosedur

Kuesioner PKASL salahi prosedur

Kuesioner PKASL salahi prosedur

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melihat ada kesalahan prosedur pembagian kuesioner program Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan (PKASL) di sejumlah sekolah di Nagroe Aceh Darusalam (NAD). Akibat salah implementasi di lapangan, kuesioener yang dibagikan mengalami kontroversi lantaran dianggap mengadung konten porno.

Direktur Bina Kesehatan Anak Kemenkes Elizabeth Jane Soepardi mengatakan, pemerintah belum mengetahui kesalahannya. Namun, kemungkinan kesalahan tersebut dapat terjadi di tingkat Dinas Kesehatan, Puskesmas atau guru di sekolah.

Menurut dia, pertanyaan yang ditanyakan pada siswa atau siswi kelas I SMP dan I SMA itu dianggap terlalu vulgar dan bahkan terkesan porno lantaran siswa diberikan pilihan jawaban berbentuk ilustrasi gambar alat kelamin dengan ukuran berbeda-beda.

Dia menjelaskan pembagian kuesioner PKASL itu merupakan bagian dari kegiatan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) yang dilaksankan rutin pada setiap tahun sejak 2010 di seluruh sekolah menengah atas dan lanjutan di Indonesia. Dasar hukumnya adalah UU Kesehatan No 36 Tahun 2009 yang juga menyinggung soal kesehatan anak.

Pertanyaan dari kuesioner sendiri disusun bersama dengan Satgas Remaja Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Departemen Psikiatri UI, Persatuan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Kemendikbud, Kemenag dan Kemenkes sebelum disebar ke seluruh sekolah di Indonesia.

Sebelum 2010 lalu, kuesioner itu telah di uji coba di enam provinsi, yakni, Sumatera Utara (Sumut), Jawa Tengah (Jateng), Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Timur (Kaltim) , Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Sulawesi Selasatan (Sulsel).

“Dari uji coba yang kita lakukan di enam provinsi, semuanya tidak ada masalah

,” ujar Elizabeth saat ditemui di Jakarta, Minggu (8/9/2013).

Menurut dia, tujuan kuesioner PKASL sendiri untuk mengetahui soal keadaan kesehatan secara umum, riwayat imunisasi, riwayat kesehatan, kesehatan mental remaja dan kesehatan reproduksi. Selain kuesioner, juga dilakukan pemeriksaan fisik meliputi kesehatan umum, kesehatan gigi, indera dan sebagainya.

Pada bidang kesehatan reproduksi, terdapat subbidang penjaringan perkembangan pubertas remaja. Tujuannya antara lain untuk mengetahui pubertas prekoks (PP-pubertas terlalu dini) dan delay puberty (DP-telat) mengalami pubertas. Kedua kelainan pertumbuhan yang terkait masalah hormonal.

Untuk mengetahui perkembangan pubertas (seks sekunder remaja) yang lazim

digunakan di dunia dengan metode Tanner Stage yang umum digunakan di dunia sejak 1976. “Metode yang ditemukan oleh dr. James Tanner ini memang menyertakan pilihan gambar ukuran alat kelamin untuk memudahkan siswa atau siswi menjawab,” tukasnya.

Dia menambahkan, berkat metode Tanner Stage ini bisa diketahui secara global bahwa satu diantara 1.000 anak di dunia mengalami pubertas terlalu dini dan 3% populasi anak (13-14 tahun) mengalami telat pubertas. Karena permasalahan pubertas sangat berdampak pada kejiwaan anak dan segera diatasi secara medis dan psikis.

Lebih lanjut dia mengatakan, dugaan kesalahan yang dilakukan di lapangan, pada saat pembagian kuesioner yang dilakukan. Kuesioner yang seharusnya mencakup secara utuh bidang-bidang kesehatan umum, riwayat kesehatan disajikan secara tidak lengkap. Imbasnya, yang terlihat paling menonjol adalah pertanyaan berkisar seks sekunder remaja yang banyak disertai gambar sehingga terkesan vulgar.

“Kesalahan lainya guru UKS tidak memberikan penjelasan terlebih dahulu

kepada siswa terkait materi dan tujuan kuesioner. Pada hasilnya siswa yang menerima pertanyaan menjadi kaget,” paparnya.

 

Sumber :

http://eventful.com/performers/m-joko-lukito-/P0-001-014219718-0

Comments are closed.