Konsep Dasar Pembelajaran Sastra Indonesia

Pendidikan

Konsep Dasar Pembelajaran Sastra Indonesia

Konsep Dasar Pembelajaran Sastra Indonesia

Konsep Dasar Pembelajaran Sastra Indonesia

 

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

Pengembangan kurikulum dilakukan oleh guru, kepala sekolah, komite sekolah, dewan pendidikan, tenaga kependidikan, wali murid, tokoh masyarakat, dan lembaga lain yang dapat dilibatkan dalam menetapkan kebijakan berdasarkan ketentuan-ketentuan pendidikan yang berlaku. Selanjutnya, kurikulum dirumuskan oleh komite sekolah menjadi program-program operasional untuk mencapai tujuan sekolah.

 

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan didedikasikan

Sebagai tonggak pembaharuan yang dapat mendongkrak kualitas pendidikan dan mampu menciptakan generasi unggul yang oleh pemerintah dan semua pihak diharapkan membentuk keselarasan antara pendidikan dan pembangunan, serta memenuhi kebutuhan dunia kerja. Dalam hal ini keterampilan menulis menjadi kata kunci agar tiap-tiap siswa mampu memaksimalkan potensi dirinya.

Ada dua dimensi konteks belajar bahasa, yaitu konteks bahasa dan konteks anak. Konteks bahasa antara lain mensyaratkan bahasa yang dipelajari itu harus utuh, tidak lepas-lepas, dan jelas ragamnya. Konteks anak antara lain mensyaratkan bahasa yang dipelajari itu harus sesuai dengan lingkungan, kebutuhan bahasa, kematangan jiwa, dan minat anak. Jadi pada dasarnya pemilihan bahan ajar sudah sepatutnya mempertimbangkan kedua konteks tersebut.

 

Ada beberapa pilihan strategi dalam pembelajaran sastra bagi siswa, yaitu

Adanya pilihan (choice) yang diberikan oleh guru kepada siswa, kesempatan (opportunity) untuk membaca, suasana (atmosphere) yang dibangun dalam menikmati karya sastra, contoh (model) yang dapat ditiru oleh siswa dalam budaya membaca, dan berbagi (sharing) informasi mengenai apa yang sudah dibaca. Strategi-strategi ini dapat diterapkan oleh pengelola pendidikan sebagai langkah pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran sastra terhadap siswa, yaitu: (1) memberi kesempatan siswa untuk memilih bacaan yang disukainya, (2) memberi kesempatan seluas-luasnya untuk membaca secara individual, (3) membuat suasana menyenangkan di sekolah. Suasana dapat dibedakan menjadi suasana fisik dan suasana sosial. Suasana fisik berkaitan dengan penempatan buku yang rapi dan menarik. Suasana sosial dapat dibangun di kelas dengan menciptakan iklim persaingan sehat dalam membaca buku.

Melalui karya sastra, anak juga dapat berbagi pengalaman dan perasaan.

Menceritakan pengalaman yang hampir mirip atau sama sekali berbeda berdasarkan buku yang dibaca merupakan kegiatan yang seharusnya menambah minat siswa dalam belajar berbahasa. Selain itu mendorong anak untuk menciptakan puisi sebagai bentuk ekspresi pengalaman dan perasaan juga penting. Namun, perlu diingat bahwa setiap anak mempunyai minat yang berbeda mengenai hal ini. Memaksa anak untuk menciptakan suatu bentuk ekspresi bahasa bukanlah tindakan yang bijaksana.

 

Pada prinsipnya, bahasa dan sastra merupakan dua unsur yang tidak dapat dipisahkan dalam kebudayaan manusia. Sastra, suatu komunikasi seni yang hidup bersama bahasa. Mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar memuat unsur pembelajaran sastra. Materi sastra sangat penting untuk disampaikan di sekolah, karena dalam sastra terdapat nilai-nilai kehidupan yang tidak diberikan secara perskriptif (harus begini, jangan begitu). Melalui karya sastra juga siswa ditempatkan sebagai pusat dalam latar pendidikan bahasa, eksplorasi sastra, dan perkembangan pengalaman personal. Keakraban dengan karya sastra akan memperkaya perbendaharaan kata dan penguasaan ragam-ragam bahasa, yang mendukung kemampuan memaknai sesuatu secara kritis dan kemampuan memproduksi narasi.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/

Comments are closed.