Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Umum

Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Inferioritas Bangsa Indonesia, Who Cares

Tulisan ini dinspirasi oleh pengalaman saya “bernyanyi” dari kampus ke kampus selama ini.Tentu saja dengan memasukkan variabel Cak Mughni yang secara rutin memprovokasi kita semua lewat milist ini. Well done, Cak! Saya usul, gimana kalo provokasi harus dijadikan salah satu “rukun” dalam meramaikan “milist” kita layaknya khotib jum’at yang selalu saja mencantumkan wasiat taqwa dalam khutbahnya. Sehingga kalo ada yang protes karena merasa ter/diprovokasi tinggal dijawab : “lha wong sudah masuk rukun, kok!!”

Biasanya saya mendapat jatah “bernyanyi” tentang tema-tema keindonesiaan dan kemahasiswaan. Panitia sekenanya saja memasukkan tema-tema begitu seolah-olah keduanya nyambung, padahal kayaknya masih perlu di check lagi kualitas persambungan diantara keduanya.Tapi, begitulah.Setiap perjumpaan heroik dengan mahasiswa-mahasiswa baru dimanapun mereka berada selalu terbesit keinginan besar di benak saya untuk mengobarkan semangat “10 pemuda yang bisa mengguncangkan” dunia.Ini adalah satu kesempatan yang tidak bisa dimiliki banyak mahasiswa. terutama mahasiswa yang 10 tahun belum lulus-lulus juga seperti saya ini.He333Awalnya saya percaya Bung Karno mengumandangkan kata-kata saktinya itu berangkat dari kenyataan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak membutuhkan banyak doktor lulusan luar negeri. Ini Fakta tak terbantahkan, ia hanya butuh pemuda-pemuda sinting, sedikit nekat, dan sembrono yang tega-teganya menculik seniornya sendiri: bung karno-bung hatta. Segerombolan pemuda yang kira-kira merupakan perpaduan antara “cak tar-cak lege-plus cak rukyat” yang dilahirkan dari seorang ibu.he3333.

Dengan setengah memaksa, dalam bayangan saya, mereka “ngancam-ngancam” ditambah sedikit “gebrak-gebrak” meja di depan angkatan tua untuk menuruti keinginan mereka, Memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia Kepada Dunia !!!!! layaknya gerombolan SC yang mendatangi rektorat karena dilarang menggelar Bhakti Kampus.

Namun kepercayaan saya perlahan-lahan, tapi pasti, luntur meski belum sepenuhnya hilang. Sekarang saya justru curiga jangan-jangan Bung Karno, saat itu, amat sangat pesimis dengan “kualitas” pemuda-pemuda Indonesia.bagaimana tidak, sepeninggal pendudukan Belanda-Jepang bangsa kita ini sedemikian terpuruk : Harta benda dijarah, pikiran-pikiran dikotori, dikerdilkan, persatuan dan kesatuan masih rentan, ketertinggalan masih jauh.

Alih-alih bangsa ini harus melakukan pembenahan sosial-ekonomi- sosial-budaya besar-besaran malah ada saja yang sempat “meluangkan waktunya” ber “ngak-ngek-ngok” ala beatles, bergaya koboi kelas teri yang melepas penat di bar-bar tiap malam dengan segelas bir ditemani wanita penggoda, menjadi agen penterjemah keinginan imperialis yang ingin menancapkan kukunya (lagi) di negeri kita tercinta secara sukarela dan bermartabat. Dhaniel Dhakidae dalam bukunya “Cendekiawan dan Kekuasaan” mengumpulkna fakta bahwa Intelektual- intelektua muda kita gampang saja berkolaborasi dengan pemilik modal bahkan militer demi meningkatkan kualitas hidup mereka. Uang, kursi parlemen, dan entah apalagi yang akan selalu diperebutkan. Tentu saja ini mengabaikan perilaku Bung Karno sendiri di akhir-akhir masa kejatuhannya. Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa sejak awal kita belum benar-benar clear dengan agenda besar sebagai bangsa: “nation character building”, “membangun budaya kemandirian” , “menjadi bangsa produktif”, “menegakkan harkat dan martabat bangsa”, dll…

Sampai sekarang agenda itu masih saja BESAR. Tidak ada yang nyicil sedikit-demi sedikit, tidak ada yang “mretheli” satu persatu, untuk selanjutnya dikumpulkan oleh seorang dirigen yang bernama PEMIMPIN BANGSA dan diumumkan sebagai sebuah kerja kolektif kebangsaan kita. Sampai sejauh mana ide ini serius digarap, adakah progressnya, ato justru berputar-putar seperti berputar-putarnya “intelektual- intelektua” nahdliyin menggarap tema Aswaja sebagai manhajul fikr yang selalu saja menghiasi “tashwirul Afkar” di tiap edisinya. Setidaknya ada dua sebab logis yang bisa menjelaskan fenomena ini.

Pertama, sudah terlalu berat beban bangsa ini untuk menanggung kerusakan peninggalan masa kolonialisme. Sehingga setiap individu di dalamnya merasa sudah cukup pantas bisa hidup dengan memenuhi tugas-tugasnya sebagai anak, sebagai suami, sebagai orang tua namun mengabaikan tugasnya sebagai bagian dari umat atau bangsa Indonesia. Kedua, usaha-usaha itu sebenarnya sudah dilakukan oleh banyak orang, termasuk kita di Jepits. namun sayangnya, kita semua miskin keterampilan untuk mengolah berbagai gagasan besar.

Fenomena “berputar-putar” nya gagasan ini ibarat seorang penulis pemula yang tidak segera bisa menuntaskan bukunya karena sang penulis terlanjur merasa gagah mendapat stempel inteletual, cendekiawan muslim bahkan sebelum tulisannya kelar.(kayak saya, He333). Muncullah cedekiawan-cendekia wan musim(an) yang mengomentari apa saja, mengkritik sekenanya, tanpa basis analisis dan tanggung jawab yang jelas. Akibatnya seluruh kisah sedih keterpurukan bangsa ini selalu saja berulang. Kasus boleh berganti-ganti namun korbannya tetap sama: Kita, Bangsa Indonesia. Subjek penindasannya bisa gantian namun objek penderitanya tetep sama:Kita, Bangsa Indonesia.

Mungkin kalo dua kalimat ini kita jadikan amalan selepas sholat fardlu, gusti allah menjadi iba dan kemudian mencabut kesedihan dan keterpurukan bangsa Indonesia secepatnya. Bisa lebih khusyu’ kalo di awal kalimat ditambahi: masak, kok ya kebangeten sekali, Kasus berganti-ganti namun korbannya tetap sama: Kita, Bangsa Indonesia dst……. Sudah sejak lama kegalauan ini saya pendam sendiri.

Alasan yang serius adalah karena tema-tema begini tidak efektif saya gunakan untuk melakukan pendekatan pada seorang perempuan. Itulah kenapa saya ndak laku-laku sampai sekarang.Saya pernah ngoyo membawa tema-tema beginian dalam “first dating” saya. Tapi begitu saya mulai melakukannya: then, she isn’t attractive on me anymore….. Alasan yang tidak serius (setidaknya) ada dua. Pertama,saya khawatir akan terjebak pada verbalisme yang mengandalkan kecanggihan pisau analisis dan ketajaman retorik belaka namun miskin implementasi. Akibatnya ,nanti,tanpa sadar saya akan menciptakan jarak, berdistansi dengan realitas, sehingga memudahkan saya untuk merasa bertanggung jawab hanya dengan menganalisisnya saja. Soal siapa yang memulai itu bukan urusan saya, itu urusan bangsa INDONESIA. Kedua, tema-tema begini sudah tidak menarik lagi di kalangan pemuda kita atau bahkan intelektual muda kita(baca: mahasiswa-mantan mahasiswa, aktivis-mantan aktivis ). Dan inilah yang akan saya elaborasi lebih jauh sebagai pusat keprihatinan saya.

Suatu ketika ada seorang mahasiswa (baru) bertanya, dengan setengah berteriak : “saya tau bangsa ini memang sedang susah, terpuruk. Tapi apa iya, setiap orang harus menegakkan keadilan, melawan penindasan, memberantas kemiskinan seperti yang sampeyan khotbahkan kepada kami. Apa salah jika mahasiswa itu masih bisa “having fun”, “enjoying ur life”? Apa salah saya yang terlahir dari keluarga kaya dan , maaf, keluarga sampeyan yang di pinggir kali itu miskin?”.

Saya masih ingat betul situasinya. Ketika itu ada forum LKMM TD di Jurusan Planologi dimana saya terlanjur semangat berkhutbah tanpa sedikitpun menyangka akan mendapat respon balik sekeras itu. saya langsung faham kalo kalimat itu sebenarnya berarti begini : Sudah tentu anda berjuang, berteriak, dan melawan “penindasan” , “ketidakadilan” , karena anda adalah korban. Sedangkan kami hidup baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dirisaukan, tidak ada yang perlu diributkan. Toh, kami tidak pernah atau sama persis seperti anda. So, buat apa kami harus melawan????

Sumber : https://belinda-carlisle.com/magic-nightfall-apk/

Comments are closed.