BIOGRAFI TAN MALAKA

Pendidikan

BIOGRAFI TAN MALAKA

 BIOGRAFI TAN MALAKA

BIOGRAFI TAN MALAKA

Tan malaka adalah seorang tokoh Revolusioner yang cukup di kenang sampai sekarang. Karena kerasnya perjuangan Tan Malaka ia ditetapkan sebagai pahlawan di Indonesia oleh Soekarno setelah ia wafat. Perjuangannya sangatlah besar pada Indonesia, ia sangat berperan besar khususnya pada kaum Ploretar baik dari segi Pendidikan, Materialisme, dan sebagainya. Ia sering mengkritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan Republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Walaupun berpandangan sosialis, ia juga sering terlibat konflik dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Tan Malaka dapat memainkan peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan sosialis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai “Pahlawan revolusi nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963. Tan Malaka juga seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangatnya gerakan modernis Islam Kaum Muda di Sumatera Barat.

Revolusi Indonesia, bukanlah Revolusi Nasional semata-mata, seperti diciptakan beberapa gelitir orang Indonesia, yang maksudnya cuma membela atau merebut kursi buat dirinya saja, dan bersiap sedia menyerahkan semua sumber pencaharian yang terpenting kepada semuanya bangsa Asing, baik musuh atau sahabat. Revolusi Indonesia, mau tak mau terpaksa mengambil tindakan ekonomi dan sosial serentak dengan tindakan merebut dan membela kemerdekaan 100%. Revolusi kemerdekaan Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan dibungkusi dengan revolusi-nasional saja. Perang kemerdekaan Indonesia harus di isi dengan jaminan sosial dan ekonomi sekaligus.

Baru kalau disamping kekuasaan politik 100 % berada lebih kurang 60 % kekuasaan atas ekonomi modern di tangan Murba Indonesia, barulah revolusi-nasional itu ada artinya. Barulah ada jaminan hidup bagi Murba Indonesia. Barulah pula kaum Murba akan giat bertindak menghadapi musuh dan mengorbankan jiwa raganya buat memperoleh masyarakat baru bagi diri dan turunannya. Baru apabila para wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat Indonesia sendiri atas pemilihan yang demokratis (umum langsung dan rahasia); baru apabila para wakil rakyat yang sesungguhnya itu memegang pemerintah Indonesia, disamping lebih kurang 60 % kebun, pabrik, tambang pengangkutan dan Bank Modern berada di tangan rakyat Indonesia, barulah revolusi nasional ada artinya dan ada jaminannya, bagi Murba Indonesia. Tetapi jika Pemerintah Indonesia kembali dipegang oleh kaki tangan kapitalis Asing, walaupun bangsa Indonesia sendiri, dan 100% perusahaan modern berada di tangan kapitalis-asing, seperti di zaman Hindia Belanda, maka revolusi nasional itu berarti membatalkan Proklamasi dan kemerdekaan Nasional dan mengembalikan Proklamasi dan kemerdekaan Nasional dan mengembalikan kapitalisme dan imperialisme International.

Sosok Tan Malaka juga mempunyai andil besar dalam kemerdekaan Indonesia. Ia terkenal dengan pejuang Revolusioner yang militan dengan strateginya dan radikal dengan gaya tindakannya. Seperti bisa kita ambil contoh pada masa-masa Belanda berada di Hindia, Tan Malaka adalah orang yang pintar sehingga ia di tarik ke Belanda dan lama belajar di sana. Ia aktif dalam pengorganisasian pelajar Indonesia, sampa-sampai ia juga berperan dalam membantu pada pemogokan kaum buruh dan akhirnya ia di usir untuk meninggalkan Belanda dan kembali tinggal di Hindia. Setelah itu ia tidak kehabisan akal, dalam tubuh Revolusionernya ia tinggal di Jawa tempatnya PKI. Disini ia berperan penting dalam perkembangan PKI, ia membantu kaum proletar dalam segi pendidikan sampai akhirnya ia di sorot untuk memimpin PKI, yang pada dasarnya disamping itu ia juga harus mempertahankan partai besarnya Sarekat Islam, dan mempertahankan Partai Kecilnya PKI. Ia mengembangkan ide komunisnya di sini.

Tan Malaka dalam pembentukan kemerdekaan Indonesia, ia dulu pernah mengganti nama menjadi Husein. Usaha militannya ini cukup berhasil, banyak orang yng tidak sadar bahwa Husein itu adalah Tan Malaka. Ia memainkan strateginya dengan Jepang dengan jitu. Ia memakai nama Husein sebagai dasar penyamarannya untuk kemerdekaan Indonesia. Ia memakai nama Husein untuk mengumpulkan para pejuang yang siap untuk Kemerdekaan, seperti B.M. Diah, Ajip Muchammad Djuhri, M Chatib, Chaerul Saleh dan lain sebagaianya.

Nama lengkap Tan Malaka yaitu Ibrahim gelar Datoek Tan Malaka atau lebih dikenal sebagai Tan Malaka, lahir di Nagari Pandan Gadang, tak jauh dari Suliki di Minangkabau (Sumatera Barat), tepatnya pada 19 Februari1896 dan meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 16 April1949 pada umur 53 tahun. Orang tuanya tergolong kaum bangsawan lokal, tetapi dalam hal kepemilikan dan kedudukan tidak banyak berbeda dengan penduduk desa setempat. Tan Malaka diberi gelar Datoek sejalan dengan garis matriarkatnya. Ia diberi gelar dan didudukan pada jenjang yang mulia pada suatu upacara yang cukup khidmat pada tahun 1913. Ia adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin sosialis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.

Ibrahim bersekolah di sekolah cukup rendah, akan tetapi ia begitu pandai sehingga gurunya mempersiapkannya untuk megikuti ujian masuk sekolah pribumi (Inlandsche Kweekschool Voor Onderwijzers) di Bukittinggi, yang merupakan satu-satunya lembaga untuk pendidikan lanjutan di Sumatera. Ia lulus dan meneruskan di sekolah guru dengan baik pada tahun 1908-1913. Karena kepintaran Tan Malaka, gurunya yang orang belanda yang bernama G.H Horensma sangat tertarik padanya dan guru ini berusaha sebaik-baiknya untuk menempatkan dirinya di Belanda guna mendapatkan ijazah guru. Akhirnya ia ditempatkan di Kweekschool di Harleem dan juga mengurus dana untuk perjalanan dan belajarnya selain juga menyumbangkan dan khusus dari Suliki.

Dari akhir tahun 1913 sampai pertengahan tahun 1915 Tan Malaka tinggal di Harleem, dan karena terganggu oleh sakit, ia berhasil mendapatkan ijazah guru bantunya dengan susah payah. Ia lalu pindah ke tempat tinggal ke Bussum yang lebih baik dan dua kali ia gagal ujian untuk mencari ijazah guru kepala. Perang dunia I membuat Tan Malaka tidak bisa kembali pulang, ia merasakan demokrasi dan kemerdekaan di Belanda sangat berbeda dari ketertiban kolonial. Ia selalu aktif dalam organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia, dan selalu bersimpati pada sosialisme dan komunisme. Sementara itu hutangnya semakin naik. Sebagai jalan ke luar ia menawarkan diri berangkat ke Sumatera Timur. Dan Sejak Januari 1920 ia menjadi guru untuk maskapai senembah, yang mendirikan sekolah untuk anak-anak kuli kontrak di perusahaan itu

Di tengah kehidupan perkebunan yang benar-benar kapitalistis dan rasistis, kehidupan Tan malaka menjadi sulit. Ia dibayar atas dasar norma-norma Eropa, akan tetapi rekan-rekan Belanda melihat dirinya dengan sebelah mata, sedang terhadap pekerjaannya selalu dianggap remeh. Dari sini keyakinan politiknya semakin mendalam dan jadilah ia seorang komunis yang sadar.

Pada usia enam belas tahun 1912, Tan Malaka sudah dikirim ke Belanda untuk belajar disana. Setelah ia telah banyak belajar disana pada tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Dari sini semangat radikal ia tumbuh, semua ini disebabkan Tan Malaka melihat kaum buruh yang selalu diinjak-injak dan tuan tanah yang memberlakukan buruhnya secara semena-mena. Pada tahun 1921 ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun disini ia mulai terjun ke kancah politik. Dan pada tahun yang sama pada saat kongres PKI yang tepatnya pada tanggal 24-25 Desember 1921 Tan Malaka juga diundang pada acara tersebut. Akan tetapi setelah itu di tahun 1922 bulan Januari ia ditangkap dan dibuang ke Kupang dan pada bulan Maret Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda.

Sumber : https://canvas.umw.edu/eportfolios/65247/Home/The_principle_of_Economics_is

Comments are closed.