Biografi Muhammad Iqbal : Pujangga Besar Islam

Pendidikan

Biografi Muhammad Iqbal : Pujangga Besar Islam

Muhammad Iqbal adalah tokoh muslim abad XX yang sangat terkenal dan berjasa di berbagai bidang, baik politik, filsafat, sastra, maupun agama. Iqbal adalah pakar ilmu filsafat Barat. Muhammad Iqbal lahir pada tanggal 22 Februari 1873 di Sialkot. Nenek moyangnya berasal dari lembah Khasmir. Sebagai anak seorang sufi, Iqbal dididik secara Islam oleh sang ayah. Saat itu, salah satu kegemarannya adalah membaca dan menghafal al-Quran. Ayahnya pernah berkata: “Jika kamu ingin memahami al-Quran, bacalah seolah kitab itu diturunkan untukmu.” Di kemudian hari, Iqbal selalu menjadikan al-Quran sebagai dasar pijakan dalam berpikir, bertindak, dan berkarya. Selain sang ayah, Iqbal juga mempunyai seorang guru lain, yaitu Maulana Mir Hasan. Di kemudian hari, pengaruh didikan Maulana membuat Iqbal menjadi seorang penyair dengan semangat keislamannya yang tinggi.
Setelah menamatkan pendidikan dasar di tanah kelahirannya, Iqbal melanjutkan sekolahnya di Government College, Lahore (1885). Pada masa itu, kecerdasan Iqbal telah terlihat. Ia adalah satu-satunya murid Sir Thomas Arnold, seorang ahli islamologi terkenal yang mengajar mata kuliah Filsafat Islam di Government School. Pada tahun 1905, atas dorongan Sir Thomas Arnold, Iqbal mempelajari filsafat Barat di London dan Berlin selama tiga tahun. Ia juga mendapat bimbingan dan pengarahan dari Profesor Mac Taggart, seorang pengajar di Universitas Cambridge, London. Selain itu, Iqbal juga sering berdiskusi dengan para pemikir Eropa lain. Beberapa tahun kemudian, Iqbal berhasil meraih gelar Doktor dari Universitas Munich, dengan disertasi berjudul The Development of Metaphysics in Persia yang merupakan karya filsafat pertama Iqbal. Selama tiga tahun berada di Eropa, pemikiran Iqbal mulai berubah. Ia menemukan kenyataan bahwa peradaban Timur dan Barat telah menyatu dalam dirinya. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengubah keyakinan Iqbal sedikit pun. Di kemudian hari, ia membangun sistem filsafatnya sendiri yang berdasarkan al-Quran.
Iqbal kembali ke Lahore setelah sempat mengajar bahasa Arab di Universitas London dan menjadi Ketua Jurusan Filsafat dan Kesusastraan Inggris. Di Lahore, ia menjadi seorang pengacara. Di sela-sela kesibukannya, Iqbal masih sempat menulis sejumlah puisi berbahasa Persia dan Urdu, serta artikel tentang filsafat, ekonomi, politik, dan sastra berbahasa Inggris. Sebagai seorang penulis meskipun telah mengenyam pendidikan Barat, tapi Iqbal mengecam dunia Barat lewat tulisannya.
Konon, idealisme Iqbal terilhami dari tulisan Sir Sayed Ahmad Khan (1817-1898) yang isinya menyarankan umat Islam mempelajari berbagai buku ilmu pengetahuan Barat, meskipun pengarangnya bukan beragama Islam dan isi bukunya menyalahi al-Quran. Iqbal berkata bahwa setiap muslim harus meniru orang-orang Arab zaman dahulu yang tidak takut kehilangan iman mereka karena mempelajari hukum Newton atau menuntut ilmu di Barat. Secara terang-terangan, Iqbal menghargai peradaban Barat dengan cara mengambil hal yang baik dan bermanfaat saja.
Sementara itu, sebagai seorang filosof muslim, Iqbal sering menuangkan gagasan tentang pribadi manusia (ego) yang kemudian menjadi tema pokok sejumlah puisinya. Sejumlah pemikiran Iqbal tentang hal tersebut termuat dalam beberapa kumpulan puisinya, seperti Syikwa (Keluhan), Jawab-I-Syikwa (Jawaban Keluhan), Bang-i Dara (Panggilan Lonceng), Asrar-i (Rahasia Pribadi), dan Rumudzi Bekhudi (Misteri Penyangkalan Diri). Di kemudian hari, beberapa karyanya telah disadur dalam bahasa Indonesia. Sementara itu, beberapa ceramah Iqbal termuat dalam sebuah buku kumpulan ceramah yang berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Buku ini adalah karya filsafatnya yang kedua.
Iqbal menentang keras sifat lamban, lemah, dan malas karena dipandangnya sebagai penghambat kemajuan. Ia juga sangat menentang pengertian takdir yang salah kaprah. Menurut Iqbal, seseorang yang ingin maju harus berjuang dengan gigih, bukan hanya menunggu takdir. Kerja keras adalah kunci kesuksesan.
Dalam dunia politik, Iqbal sempat menjabat sebagai Presiden Liga Muslim. Ia adalah tokoh pencetus Negara Islam Pakistan. Pengaruh Iqbal sedemikian rupa sehingga namanya diabadikan di beberapa lembaga di Jerman, Italia, dan negara lain. Pada tahun 1922, sebuah universitas tertua di Jepang menganugerahkan Sir pada Iqbal. Beberapa waktu kemudian, Iqbal juga mendapat gelar Doctor Anumerst di bidang sastra dari Universitas Tokyo. Gelar ini adalah gelar pertama yang diberikan pihak universitas kepada seorang tokoh yang berprestasi dan berdedikasi di bidang tersebut.
Muhammad Iqbal meninggal dunia pada tanggal 21 April 1923 di Lahore. Ia dimakamkan di dekat pintu gerbang Masjid Shahi di Lahore, Pakistan. Dua tahun setelah kematian Iqbal, sebuah revolusi besar terjadi di Pakistan, yang kemudian memicu terbentuknya Republik Islam Pakistan. Sebagai salah satu pencetusnya, Iqbal tidak sempat menyaksikan kelahiran negara baru tersebut.
Baca Juga :

Comments are closed.